Segehan

Segehan biasanya dilakukan untuk upacara bhuta yadnya yang sederhana, yaitu pada saat hari kliwon, kajeng kliwon, purnama, tilem, rerahinan alit di sanggah, pagerwesi, Saraswati. Biasanya segehan ini dihaturkan kepada Bhuta bucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari di lingkungan rumah. 

Segehan Kepel
Alasnya dipakai sebuah taledan ( tangkih ) dari daun pisang, diatasnya diisi dua kepel nasi puith, ikannya bawang jae dan garam.
Diatasnya ditaruh atau dilengkapi dengan canang genten ( canang biasa ).  Jumlah nasi disesuaikan dngan keinginan begitu pula warnanya disesuaikan dngan maksud dan tujuan yang disuguhkan, Bisa  warna putih kuning atau menjadi empat warna seperti  hitam , merah, putih dan kuning.

Segehan Cacahan
Alasnya dipakai taledan ( daun pisang ) , diatasnya diisi 6-7 tangkih, lima buah diisi nasi putih , satu  diisi bijaratus ( lima jenis biji-bijian : jagung, jagung nasi, jawa, godem dan jali ), dan satu tangkih diisi beras sedikit, base tampel benang putih, dan uang kepeng. Sebagai lauk pauknya adalah bawang, jae dan garam. Kemudian dilengkapi dengan sebuah canang genten.  Nasi dari segehan ini dapat pula diwarnai sesuai keperluan.  

Segehan Agung
Sebagai alasnya dipakai sebuah tempeh yang cukup besar,  diatasnya diisi 11 atau 33 tangkih, masing masing diisi dengan nasi putih serta lauknya bawang , jae dan garam.  Kemudian dilengkapi dengan sebuah daksina atau alat perlengkapan daksina itu ditaruh begitu saja ditempat tersebut tidak dialasi dengan bakul dan kelapanya tidak dikupas sampai bersih. Segehan ini dilengkapi dengan sebuah canang payasan dan 11 atau 33 canang genten/biasa ditambah dengan jinah sandangan. Untuk menghaturkan banten ini disertai dengan penyambleh ayam kecil/ itik/ babi yang belum dikebiri ( kucit butuan ) yang masih hidup. Waktu menghaturkan segala perlengkapan yang ada pada daksina itu dikeluarkan sedangkan telur dan kelapanya dipecahkan diikuti dengan pemotongan / penyambleh dan akhirnya tetabuhan.
Segehan Agung dipergunakan untuk upacara yang agak besar atau kadang dipergunakan untuk upacara mendak Ida Bhatara, upacara pengukuran tempat bangunan atau palinggih, ataupun peletakan batu pertama pada saat membuat bangunan suci.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

YANG PALING SERING DIBACA